Mungkin aku ingin mengenang ini, seperti menjadi kebiasaan orang pada umumnya ketika memandang masa lalu. Hanya aku tidak ingin menyesalkan waktu yang bergulir dan akan terus bergulir seperti orang pada umumnya.
Tidak terasa kita tidak berjumpa lima tahun lamanya. Sebelumnya kita pernah tidak berjumpa dua tahun lamanya. Kurang lebih kita sering tidak berjumpa.
Waktu-waktu tanpa perjumpaan tentu sangatlah kabur untuk kita saling mengetahui. Kita masing-masing memiliki kegiatan dan sibuk dengannya, sesuatu yang boleh jadi kita sukai, atau malah kita benci.
Di antara kegiatan itu, mungkin kilatan peristiwa tentang kita muncul dalam ingatan tanpa sengaja, sehingga ada saja kerinduan hadir. Mungkin bayang-bayang masa lalu begitu kentalnya.
Suasana yang mungkin kita akui terasa segar seperti air bagi makhluk-makhluk yang dahaga. Tetapi terus terang, aku tidak tahu dahaga macam apa yang dapat kita rasakan.
Tahun-tahun berlalu, serasa mempersingkat bulan-bulan, minggu-minggu, hari-hari, ketika kita tidak berjumpa. Waktu tanpa belas kasih tidak urung berhenti memberikan kesempatan.
Hembusan angin malam yang dingin menusuk sampai kedalaman tulang tidak memiliki arti bagi hati yang membeku. Seandainya aku dapa tmenculik malam dan menyimpannya di dalam hatiku, atau memenjarakan bulan purnama sehingga aku dapat bercerita kepadanya.
Tetapi aku percaya bahwa waktunya akan tiba bagi kita berjumpa. Hanya aku tidak tahu dalam suasana seperti apa kita akan berjumpa. Karena aku harus menyerah kepada sesuatu yang berada di luar kekuasaanku. Seandainya kamu mengerti dengan yang kumaksudkan.
Ketika kesempatan hadir, ketika waktu menantang keberanian kita untuk saling berjumpa, kita kini harus saling menanggapi. Kita harus siap memunculkan lembaran lama dalam ingatan kita. Kita membongkar bersama masa lalu kita. Kita memang harus sama-sama siap, siap dengan kenyataan dan keadaaan.
Waktu telah menyayat-nyayat kehidupan kita sehingga tidak lagi terasa pedih. Sakitnya luka karena lama tidak berjumpa telah terhapus.
Tetapi untuk semua itu, butuh persembahan yang harus diberikan untuk meminta belas kasih Sang Waktu, sehingga berkenan memberi kesempatan kepada kita.
Aku hanya ingin dirimu, karena itu aku mencari persembahan ke mana pun tempatnya, untuk melunakkan kerasnya hati Sang Waktu. Aku tidak tahu, persembahan apa yang pantas? Hutan, lautan, sungai, gunung, aku jelajahi dan susuri.
Akhirnya batinku berseru, membimbingku ke kolam di taman Surga. Aku melihat teratai merah yang terapung memenuhi permukaan kolam. Batinku seperti berbicara bahwa teratai merah kemungkinan dapat membantuku melunakkan kerasnya hati Sang Waktu. Aku menanggapinya, dan kuambil beberapa teratai merah.
Dengan segala sukacitaku yang mendalam, aku membawa teratai merah kepadamu dan sekaligus meminta Sang Waktu memberikan kesempatan lebih banyak kepada kita.
Aku bergegas supaya semakin cepat aku berjumpa dirimu, semakin banyak pula waktu yang akan dapat kita lewatkan bersama.
Tetapi memang, kenyataan dan keadaaan ada di luar kekuasaanku. Sudah benar aku membawa teratai merah, hanya Sang Waktu tidak mau mengerti dan mencurahkan belas kasihnya.
Selama ini aku telah meraba-raba yang menjadi kebutuhanmu, hanya aku terlambat. Seandainya aku dapat tiba lebih awal, mungkin aku dapat memperoleh kesempatan bersama lebih banyak.
Teratai merah yang aku pikir dapat membuat Sang Waktu mencurahkan belas kasihnya, ternyata tidak mengubah apapun. Teratai merah yang seharusnya dapat menyembuhkan luka lambungmu, kini tidak lagi berarti.
Aku dengan susah mencari teratai merah, tetapi aku hanya dapat berjumpa denganmu di saat-saat terakhir.
“Apa aku harus mati untuk mencintaimu?”, merupakan kata-kata terakhir yang senantiasa terngiang.
Air mata yang kering, kalau bukan sebuah gurun tanpa air, pastilah bongkahan air membeku.
Aku hanya mengerti bahwa ini semua berada di luar kekuasaanku.
Aku senantiasa mengingatmu setiap kali memandang teratai merah yang terapung memenuhi permukaan kolam di taman. Ketika berada di tepian kolam, kadang aku memperhatikan bayang–bayang diriku yang memantul di permukaan air kolam, di antara sela-sela teratai merah yang terapung. Sudah pasti tanpa dirimu. Aku hanya berpikir bahwa kolam itu adalah air mata kesedihan dan teratai merah itu hidup karenanya.
Sahabat dan kekasihku, aku hanya dapat menuliskan kenangan ini bagimu, dan memberikan persembahan hanya berupa kuntum-kuntum teratai merah. Maafkan aku, atas segala keterlambatanku.
Jumat, 10 Agustus 2007
Langganan:
Postingan (Atom)
